Jurnal Kesehatan & Wellness

Cara Terapi Bekam: Ragam Prosedur, Keterbatasan Bukti, dan Risiko Medis

Terapi bekam (cupping therapy) adalah metode perawatan tradisional yang menempatkan cawan khusus pada permukaan kulit untuk menghasilkan daya hisap atau tekanan vakum. Terapi ini telah digunakan selama berabad-abad dalam berbagai tradisi budaya dan saat ini sering dicari sebagai sarana komplementer untuk mengurangi ketegangan otot.

Meskipun cukup populer, setiap orang yang mempertimbangkan terapi bekam perlu mengetahui bahwa kualitas bukti ilmiah yang mendukung efektivitas bekam sebagian besar masih tergolong rendah, bukti peredaan nyeri tidak tergolong kuat, dan prosedurnya memiliki potensi risiko medis yang nyata.

Mengenal Tiga Prosedur Utama Terapi Bekam

Secara umum, terdapat tiga variasi teknik bekam yang paling sering dipraktikkan:

1. Bekam Kering (Dry Cupping)

Pada metode ini, praktisi meletakkan cawan kaca, silikon, atau plastik pada area tubuh tertentu (biasanya punggung). Udara di dalam cawan ditarik menggunakan pompa mekanis manual atau dengan memanaskan udara di dalam cawan kaca sebelum ditempelkan ke kulit. Tekanan hisap menarik kulit dan jaringan di bawahnya ke dalam rongga cawan selama beberapa menit tanpa membuat perlukaan pada kulit.

2. Bekam Basah (Wet Cupping)

Metode ini menggabungkan hisapan awal dengan perlukaan mikro pada kulit. Setelah cawan ditempelkan beberapa menit, praktisi mengangkat cawan dan membuat sayatan kecil atau tusukan dangkal dengan jarum lanset steril. Cawan kemudian dipasang kembali untuk menarik sejumlah kecil darah kapiler dari permukaan kulit.

3. Bekam Luncur atau Seluncur (Moving / Sliding Cupping)

Praktisi mengoleskan minyak pelumas atau minyak pijat pada permukaan kulit terlebih dahulu. Cawan dengan daya hisap ringan ditempelkan, lalu digerakkan atau diseluncurkan di sepanjang jalur otot punggung menyerupai teknik pemijatan jaringan lunak.

Keterbatasan Bukti Ilmiah dan Mitos Detoksifikasi

Banyak narasi populer yang mengklaim bahwa bekam mampu mengobati berbagai penyakit sistemik seperti hipertensi, fibromyalgia, atau mengeluarkan racun tubuh. Namun, fakta medis menunjukkan hal yang berbeda:

  • Kualitas bukti ilmiah masih rendah (low quality): Sebagian besar uji klinis mengenai terapi bekam memiliki keterbatasan metodologi, ukuran sampel kecil, dan risiko bias yang tinggi.
  • Bukti manfaat nyeri tidak kuat (not strong): Efektivitas bekam dalam mengatasi nyeri punggung kronis atau nyeri otot belum didukung oleh bukti ilmiah yang konsisten dan meyakinkan.
  • Mitos darah kotor dan detoksifikasi: Darah yang keluar pada prosedur bekam basah adalah darah kapiler biasa, bukan limbah racun atau “darah kotor”. Organ penyaring dan pembuang racun alami tubuh manusia adalah hati (liver) dan ginjal, bukan permukaan kulit melalui cawan hisap.

Risiko Medis dan Efek Samping yang Perlu Diwaspadai

Terapi bekam—terutama bekam basah dan metode dengan pemanasan api—membawa risiko kesehatan yang harus dipertimbangkan secara serius:

  • Luka bakar: Terapi bekam api (fire cupping) berisiko menyebabkan luka bakar derajat satu hingga derajat tiga jika api atau bibir cawan yang panas mengenai kulit secara langsung.
  • Infeksi kulit: Perlukaan pada bekam basah merusak lapisan pelindung kulit (skin barrier), membuka peluang masuknya bakteri jika kebersihan alat dan kulit tidak terjaga.
  • Jaringan parut (scars) dan perubahan warna kulit menetap: Tusukan jarum dan hisapan berulang dapat meninggalkan bekas luka parut permanen serta bercak hiperpigmentasi melingkar (persistent discoloration).
  • Risiko anemia: Pengambilan darah pada prosedur bekam basah yang dilakukan terlalu sering atau dalam jumlah berlebih berisiko menyebabkan penurunan kadar hemoglobin dan sel darah merah (anemia).
  • Penularan penyakit menular lewat darah: Penggunaan alat tusuk atau cawan yang tidak steril dan digunakan berulang kali berisiko menularkan patogen berbahaya seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV.

Kontraindikasi dan Panduan Keselamatan

Terapi bekam tidak boleh dilakukan pada:

  • Penderita gangguan pembekuan darah (seperti hemofilia) atau pengguna obat pengencer darah (antikoagulan).
  • Penderita anemia berat atau kondisi tubuh yang sangat lemah.
  • Area kulit dengan infeksi aktif, luka terbuka, eksim, psoriasis, atau pembengkakan yang belum didiagnosis.
  • Wanita hamil pada area perut dan punggung bagian bawah.

Jika Anda memiliki keluhan nyeri otot kronis atau gangguan kesehatan tertentu, lakukan pemeriksaan ke dokter terlebih dahulu untuk memperoleh diagnosis medis yang akurat.

Sumber Rujukan


Untuk mengeksplorasi teknik perawatan tubuh komplementer yang berorientasi pada relaksasi dan kenyamanan tanpa tindakan invasif, Anda dapat mempelajari program relaksasi tubuh dan pijat refleksi di Nirwana Training Center.

Catatan: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti diagnosis atau saran tenaga kesehatan. Untuk keluhan medis, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang kompeten.
N
Nirwana Training Center
Pusat Pelatihan Pijat & Wellness sejak 2012 · Jakarta
← Semua Artikel